Featured

Pengertian Persepsi

9:52:00 AM

Hollenbeck and Wagner III (1992:121) mendefinisikan persepsi sebagai berikut
“Perception is the process by which individual select, organize, store, and interpret the information gathered these senses”.

Sedangkan menurut Gibson (1996:56) ialah:
“Persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan seseorang untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya”.

Gambaran kognitif dari individu bukanlah penyajian foto dunia fisiknya, melainkan suatu bagian tafsiran pribadi di mana objek tertentu yang dipilih individu untuk peranannya yang utama, didasarkan dalam sikap seseorang individu.

Pengertian Fungsi dan Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia

9:51:00 AM

Manajemen sumber daya manusia mempunyai arti proses, ilmu dan seni manajemen yang mengatur tentang sumber daya manusia yang ada di dalam organisasi. Biasanya suatu organisasi mempunyai bagian khusus untuk menangani hal ini dan dikepalai oleh seorang manajer personalia.
Untuk lebih jelasnya kita melihat uraian manajemen sumber daya manusia menurut Filippo (1993:5) yang menyebut Manajemen sumber Daya Manusia sebagai Manajemen Personalia, mengemukakan bahwa:
“Personel management is Planning, organizing, directing, and controlling, of the procurement, deelopment, compensasion, integration, maintenance and separation of human resources to the end that individual, organizational and societal objectives are accomplished”.
(Manajemen Personalia adalah suatu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan kegiatan-kegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pelepasan sumber daya manusia agar tujuan individu organisasi dan masyarakat dapat terwujud).

Menurut Filippo (1993:6) definisi manajemen personalia meliputi dua fungsi manajerial dan fungsi operasional. Agar tujuan organisasi dan tujuan indiidual karyawan dapat dicapai dengan baik maka kedua fungsi tersebut harus dilaksanakan sebaik-baiknya.

Fungsi Manajerial

a.       Planning (Perencanaan)
Yaitu kegiatan yang paling pertama dilakukan. Kita harus merencanakan terlebih dahulu berapa jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, bagaimana kemampuannya agar dapat dicapai titik optimal. Tanpa manajemen sumber daya manusia manajer personalia akan kesulitan dalam mencapai efisiensi kerja karyawan.
b.      Organizing (Pengorganisasian)
Ini adalah langkah kedua. Kita harus mulai mengelola sumber daya manusia yang ada, dimana seorang anjer personalia dapat memberikan pembagian tugas dan wewenang karyawan dan membuat struktur organisasi yang mengatur hubungan karyawan dengan atasan, karyawan dengan sesamanya dan karyawan dengan bawahannya.
c.       Directing (Pengarahan)
Inilah langkah ketiga yang merupakan pelaksaaan dari kedua fungsi sebelumnya. Kita memberikan pengarahan bila karyawan salah dan memberikan pujian akan bonus bila karyawan berprestasi tinggi.
d.      Controlling (Pengendalian)
Ini merupakan dari pengendalian dari recana semula dan dapat juga berarti evaluasi dari ketiga fungsi sebelumnya dengan membandingkan rencana semula dengan keadaan yang terjadi sekarang.

Fungsi Operasional

a.       Procurement (Pengadaan)
Ini adalah fungsi pengadaan karyawan yang dibutuhkan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas agar tercapai efisiensi.
b.      Development (Pengembangan)
Ini dilakukan melalui sarana-sarana pendidikan dengan tujuan peningkatan kemampuan karyawan, sehingga dapat menyelesaikan tugas dengan lebih baik.
c.       Compensation (Kompensasi)
Ini adalah fungsi pemberian balas jasa yang sesuai dengan prestasi kerja karyawan.



d.      Integration (Integrasi)
Ini adalah usaha mempengaruhi karyawan sedemikian rupa sehingga segala tindakan ereka dapat diarahkan pada tujuan yang menguntungkan perusahaan, pekerjaan, dan rekan sekerja.
e.       Maintenance (Pemeliharaan)
Ini adalah fungsi mempertahankan dan memperbaiki kondisi-kondisi yang telah ada, yang terpenting disini adalah terpeliharanya kondisi fisik karyawan dan sikap-sikap mereka terpelihara sehingga tidak merugikan perusahaan.
f.       Separation (Pemisahan)
Ini merupakan fungsi erakhir dari fungsi operatif, yaitu mengenai pemutusan kerja seperti pensiun, pengunduran diri, pemecatan, dengan memperhatikan undang-undang atau peraturan tentang ketenagakerjaan yang berlaku.
Agar manajemen sumber daya manusia lebih diperhatikan, kita lihat peranannya menurut Hasibuan (1993:15), yang menyatakan bahwa peranan manajemen sumber daya manusia adalah mengatur dan menetapkan program kepegawaian yang mencakup masalah-masalah:
1.      Menetapkan jumlah, kualitas dan penempatan tenaga kerja yang efektif sesuai dengan kebutuhan perusahaan berdasarkan Job Requitment, Job Specification, Job Description dan Job Evaluation.
2.      Menetapkan penarikan, seleksi, dan penempatan karyawan berdasarkan asas The Right Man On The Right Place And The Right Man On The Right Job.
3.      Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi dan pemberhentian.
4.      Meramalkan penawaran dan permintaan sumber daya manusia pada masa yang akan datang.
5.      Memperkirakan keadaan perekonomian pada umumnya dan perkembangan perusahaan kita pada khususnya.
6.      Memonitor dengan cermat undang-undang perburuhan, dan kebijakan pemberian balas jasa perusahaan-perusahaan sejenis.
7.      Memonitor kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh.
8.      Melaksanakan pendidikan, pelatihan dan penilaian prestasi karyawan.
9.      Mengatur mutasi karyawan baik vertikal maupun horizontal.
10.  Mengatur pensiun, pemberhentian, dan pesangonnya.

Pengertian Manajemen

5:44:00 AM


  Pengertian Manajemen
Manajemen mempunyai arti yang sangat luas, dapat berarti proses, seni, maupun ilmu. Dikatakan proses karena dalam manajemen terdapat beberapa tahapan untuk mencapai tujuan, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Dikatakan seni karena manajemen merupakan suatu cara atau alat untuk seorang manajer dalam mencapai tujuan. Dimana penerapan dan penggunaannya tergantung pada masing-masing manajer yang mempunyai cara dan gaya tersendiri, dalam mencapai tujuan perusahaan yang sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi dan pembawaan manajer. Dikatakan ilmu karena manajemen dapat dipelajari dan dikaji kebenarannya.
Definisi Manajemen menurut para ahli antara lain sebagai berikut:
Menurut Hasibuan, (1999:2) menyatakan bahwa:
“Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu”.

Menurut Terry, (1993:3), menyatakan bahwa:
“Management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling performed to determine and accomplish stated objecties by the use of human being and other resources”.
(Manajemen adalah suatu proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan perenanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber data manusia dan sumber-sumber lainnya).





Menurut Stonner dan Wankel, (1992:4-5) menyatakan bahwa:
“Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian dan pengendalian upaya anggota organisasi dan proses penggunaan semua sumber daya organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi yang diharapkan”.

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Produktivitas Kerja

10:36:00 AM

Seperti kita ketahui bahwa gaya kepemimpinan merupakan suatu proses di mana seseorang mempengaruhi orang lain atau suatu kelompok dalam usahanya untuk mencapai tujuan tertentu. Setuap pemimpin mempunyai gaya kepemimpinannya sendiri. Seorang pemimpin yang berhasil mengusahakan bawahannya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, sangat bergantung pada kemampuan pemimpin tersebut dalam menyesuaikan gaya kepemimpinannya pada situasi kerja yang dihadapinya. Tannanbaum dan Schmidt yang dikutip oleh Gibson (1989:285) mengatakan bahwa:
“Manajer yang baik adalah orang yang dapat memelihara keseimbangan yang tinggi dalam menilai secara tepat kekuatan yang menentukan perilakunya yang paling cocok bagi waktu tertentu dan benar-benar mampu bertindak demikian”.
Keberhasilan perusahaan pada dasarnya ditopang oleh kepemimpinan yang efektif, di mana dengan kepemimpinannya itu dapat mempengaruhi bawahannya untuk membangkitkan motivasi kerja mereka agar berpartisipasi terhadap tujuan bersama.
Seperti yang dikatakan oleh Dale Timple (1991:31) mengatakan:
“Pemimpin merupakan orang yang menerapkan prinsip dan teknik yang memastikan motivasi, disiplin, dan produktivitas jika bekerja sama dengan orang, tugas, dan situasi agar dapat mencapai sasaran perusahaan”.

Dengan mengerti dan mengetahui hal-hal yang dapat membangkitkan motivasi dalam diri seseorang yang merupakan kunci untuk mengatur orang lain. Tugas pemimpin adalah mengidentifikasikan dan memotivasi karyawan agar dapat berprestasi dengan baik yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas perusahaan.

Gaya-gaya Kepemimpinan

6:51:00 AM


   Menurut Boone dan Kurtz (1984:69) mendefinisikan gaya kepemimpinan sebagai cara seseorang memanfaatkan kekuatan yang tersedia untuk memimpin orang lain.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan menentukan gaya kepemimpinan yaitu: pemimpin itu sendiri, orang yang dipimpin, dan situasi. Gaya kepemimpinan merupakan fungsi dari keetiga variabel tersebut.
Sedangkan menurut Terry yang dialihbahasakan oleh Winardi (1986:31), menjelaskan dikembangkannya suatu kerangka Manajerial atau “The Managerial Grid” oleh psikolog industrial yang bernama Blake and Mouton (1966:31) memberikan gambaran yang menarik dan berguna tentang macam-macam gaya kepemimpinan.
Melalui “The Managerial Grid’ tersebut bidang-bidang manajemen terpilih dapatlah kita identifikasikan gaya kepemimpinannya dalam situasi tertentu. Banyak para ahli megemukakan tipe atau gaya kepemimpinan dalam jumlah dan bentuk yang berbeda, menurut Terry yang dialihbahasakan oleh Winardi (1986:350), menggolongkan jenis-jenis kepemimpinan yaitu sebagai berikut:
1.            Kepemimpinan Pribadi (Personal Leadership)
Kepemimpinan pribadi dilaksanakan melalui hubungan pribadi. Petunjuk-petunjuk dan dorongan atau motivasi diberikan secara pribadi oleh pihak pimpinan. Hal tersebut merupakan jenis kepemimpinan biasa dan pada umumnya bersifat sangat efektif dan mudah untuk dilaksanakan.
2.            Kepemimpinan Non Pribadi (Non Personal Leadership)
Kepemimpinan jenis ini dipengaruhi untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan dilaksanakan melalui orang-orang bawahan pimpinan dan melalui media non pribadi serta kepercayaan-kepercayaan.
3.            Kepemimpinan Otoritas (Authoritarian Leadership)
Kepemimpinan jenis ini dilaksanakan atas anggapan bahwa kepemimpinan merupakan suatu hak dan terdapat hingga tingkat yang sama dalam otoritas yang dimiliki seorang individu. Tugas-tugas, fasilitas dan petunjuk-petunjuk diberikan tanpa mengadakan konsultasi dengan pekerja yang melaksanakan tugas.
4.            Kepemimpinan Demokrasi
Kepemimpinan jenis ini ditandai oleh partisipasi kelompok dan diproduktifkan opini-opininya. Pihak pimpinan menganjurkan tindakan tertentu, akan tetapi menunggu persetujuan kelompok dan berusaha untuk memenuhinya.
5.            Kepemimpinan Paternalistis
Dicirikan oleh suatu pengaruh yang paternal atau kebapakan dalam hubungan antar pemimpin kelompok. Tujuan untuk melindungi dan memberi arah.
6.            Kepemimpinan bakat (Indegeneous Leadership)
Kepemimpinan yang timbul pada orang-orang dari kelompok organisasi social informal. Kelompok ini membentuk saling mempengaruhinya diri seseorang dengan orang lain pada pekerjaan di rumah, di sekolah, pada permainan dan sering timbul secara spontan.
White dan Lippit (1983:25) mengemukakan tiga tipe gaya kepemimpianan, yaitu:
1.            Gaya Kepemimpinan Otokrasi (Autocratia)
         Dalam tipe kepemimpinan ini, pemimpin menentukan sendiri “policy” dan rencana untuk kelompoknya, membuat keputusan-keputusan sendiri, Namun mengharapkan tanggung jawab penuh bawahan harus patuh dan mengikuti perintahnya. Jadi pemimpin tersebut menentukan atau mendiktekan aktivitas  dari anggotanya. Dalam kepemimpinan otokrasi terjadi adanya keketatan dalam pengawasan, sehingga sukar bagi bawahan dalam memuaskan kebutuhan egoistisnya.
Kebaikan dari gaya kepemimpinan ini adalah:
a.       Keputusan dapat diambil secara tepat
b.      Tipe ini baik digunakan pada bawahannya yang kurang displin, kurang inisiatif, dan bergantung pada atasan saja, kurang kecakapan (unskilled)
c.       Pemusatan kekuasaan, tanggung jawab serta membuat keputusan terletak pada satu orang yaitu pimpinan.
Kelemahannya adalah:
a.       Dengan tidak diikutsertakannya bawahan dalam mengambil keputusan atau tindakan, maka bawahan tersebut tidak dapat belajar mengenai hal tersebut.
b.      Kurang mendorong inisiatif bawahan dan dapat mematikan inisiatif para bawahan tersebut.
c.       Dapat menimbulkan rasa tidak puas dan tertekan.
d.      Bawahan kurang mampu menerima tanggung jawab dan tergantung pada atasan saja.
2.            Gaya Kepemimpinan Demokrasi (Democratic)
Pada gaya ini pemimpin sering mengadakan konsultasi dengan mengikuti bawahannya dan aktif dalam menentukan rencana kerja yang berhubungan dengan kelompok. Di sini pemimpin seperti moderator atau koordinator dan tidak memegang peranan seperti pada kepemimpinan otoriter. Partisipan digunakan dalam kondisi yang tepat, akan merupakan hal yang efektif. Maksudnya supaya dapat memberikan kesempatan pada bawahan untuk mengisi atau memperoleh kebutuhan egoistisnya dan memotivasi bawahan dalam menyelesaikan tugasnya untuk meningkatkan produktivitasnya.
Pada pemimpin demokratis, sering mendorong bawahan untuk ikut ambil bagian dalam hal tujuan-tujuan dan metode-metode serta menyokong ide-ide dan saran-saran. Di sini pemimpin mencoba mengutamakan “human relation” (hubungan antar manusia) yang baik dan mengerjakan secara lancar komunikasi-komunikasi dua arah. Pemimpin tidak memberikan instruksi yang mendetail secara ketat terhadap pengikutnya.
Kebaikan dari gaya kepemimpinan ini adalah :
a.       Memberikan kebebasan lebih besar kepada kelompok untuk mengadakan kontrol terhadap supervisor.
b.      Merasa lebih bertanggung jawab dalam menjalankan tugas.
c.         Produktivitas lebih tinggi dari apa yang diinginkan manajemen dengan catatan bila situasi memungkinkan.
d.      Ada kesempatan untuk mengisi kebutuhan egoistisnya.
e.       Lebih matang dan bertanggung jawab terhadap status dan pangkat yang lebih tinggi.
f.         Di sini kedua belah pihak yaitu pemimpin dan bawahan dapat saling mengenal dan saling mengerti lebih dalam tentang hubungan antar kemanusiaan. Bawahan dapat membantu pemimpin dalam menghadapi persoalan, jadi dapat saling mengisi kekurangan dan dapat lebih saling menghargai.
g.      Mengurangi ketegangan di dalam kelompok dan mengurangi konflik.
Kelemahannya adalah :
a.       Harus banyak membutuhkan koordinasi dan komunikasi.
b.      Membutuhkan waktu yang relatif lama dalam mengambil keputusan.
c.       Memberikan persyaratan tingkat “skilled” (kepandaian) yang relatif tinggi bagi pimpinan.
d.      Diperlukan adanya toleransi yang besar pada kedua belah pihak karena jika tidak dapat menimbulkan perselisih pahaman.
3.            Gaya Kepemimpinan Laissez Faire
Kepemimpinan pada tipe ini melaksanakan peranannya atas dasar aktivitas kelompok dan pimpinan kurang mengadakan pengontrolan terhadap bawahannya. Pada tipe ini pemimpin akan meletakkan tanggung jawab keputusan sepenuhnya kepada para bawahannya, pemimpin akan sedikit saja atau hampir tidak sama sekali memberikan pengarahan. Pemimpin pada gaya ini sifatnya pasif dan seolah-olah tidak mampu memberikan pengaruhnya kepada bawahannya.
Kebaikan dari gaya kepemimpinan ini:
a.             Ada kemungkinan bawahan dapat mengembangkan kemampuannya, daya kreatifitasnya untuk memikirkan dan memecahkan persoalan serta mengembangkan rasa tanggung jawab.
b.            Bawahan lebih bebas untuk menunjukkan persoalan yang ia anggap penting dan tidak bergantung pada atasan sehingga prosesnya lebih cepat.
Kelemahannya adalah:
a.             Bila bawahan terlampau bebas tanpa pengawasan, ada kemungkinan terjadi penyimpangan dari peraturan yang berlaku dari bawahan serta dapat mengakibatkan salah tindak dan memakan banyak waktu bila bawahan kurang pengalaman.
b.            Pemimpin sering sibuk sendiri dengan tugas-tugas dan terpisah dari bawahan. Beberapa tidak membuat tujuan tanpa suatu peraturan tertentu.
c.             Kelompok dapat mengkambinghitamkan sesuatu, kurang stabil, frustasi dan merasa kurang aman.
Penggunaan tipe atau gaya kepemimpinan tersebut akan selalu berubah secara bergantian sesuai dengan perubahan situasi yang dihadapi oleh pemimpin yang bersangkutan. Dalam situasi tenang dan dalam menghadapi masalah-masalah yang memerlukan pikiran bersama antara pemimpin dengan pelaksananya, dengan sendirinya akan dipergunakan tipe kepemimpinan demokrasi. Sebaliknya dalam situasi darurat di mana diperlukan langkah-langkah yang cepat, dengan sendirinya akan menuntut dilaksanakannya kepemimpinan otokrasi. Jadi kadang-kadang suatu saat pemimpin memberikan pengarahan atau perintah yang kaku. Tetapi, pada saat lain ia memberikan saran. Oleh karena itu, tidak ada tipe atau gaya kepemimpinan yang lebih baik semua tergantung kepada situasi atau lingkungannya. Ralph and Lippit (1983:26-27).
Powered by Blogger.